KOPRI Bukan Penghalang Perempuan PMII, Ia Ada Karena Perjuangan Belum Selesai

KOPRI Bukan Penghalang Perempuan PMII, Ia Ada Karena Perjuangan Belum Selesai

Sumber: PMII UIN Banten

"Bagi perempuan, persoalannya bukan hanya soal keberanian. Bagaimana bisa disebut adil jika ritme, cara kerja, dan standar keberhasilannya mengikuti pola yang sejak awal bukan milik perempuan."

Oleh: Yayu Fitri Baqiyatus Solihat

Ketua KOPRI PMII Komisariat UIN SMH Banten Periode 2025-2026

 

Setiap kali berbicara tentang keberadaan KOPRI, ujungnya selalu kembali pada perdebatan yang sama dan tidak pernah ada jawaban yang saklek. Ada yang bilang KOPRI membatasi ruang perempuan, ada yang menyebut perempuan menjadi terlalu nyaman di wadahnya sendiri, ada pula yang menuding bahwa perempuan PMII menjadi tidak berani bersaing secara adil karena berlindung di bawah KOPRI. Seolah-olah KOPRI muncul karena perempuan tidak cukup percaya diri, seolah-olah jika perempuan ingin setara, ruang yang sesungguhnya hanyalah PMII tanpa cabang gerakan lainnya. Namun, kenyataannya justru jauh lebih kompleks dari sekadar "berani atau tidak berani".

Sejak kecil, laki-laki dan perempuan tumbuh dengan bentuk didikan yang berbeda. Laki-laki dibentuk untuk berani mengambil risiko, bebas bersuara, bertindak cepat, dan mengutamakan strategi. Mereka terbiasa menaruh ambisi di depan dan tidak dianggap salah karenanya. Perempuan justru dibiasakan menjaga perasaan orang lain, tidak terlalu keras, tidak terlalu vokal, serta lebih berhati-hati dalam bergerak. Mereka dididik untuk merawat, bukan menantang; mengalah, bukan mendesak; bertanggung jawab secara emosional, bukan secara politik.

Lalu ketika keduanya bertemu dalam organisasi besar seperti PMII, apakah mungkin mereka langsung bergerak dengan cara yang sama? Tentu tidak! Dan ketidaksamaan pola gerak inilah yang membuat perempuan sering tampak "tertinggal", bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena sejak awal arena bermainnya saja sudah tidak sama rata. Di titik ini, laki-laki sering menganggap permasalahannya sederhana, "tinggal bersaing secara adil". Namun bagi perempuan, persoalannya bukan hanya soal keberanian. Bagaimana bisa disebut adil jika ritme, cara kerja, dan standar keberhasilannya mengikuti pola yang sejak awal bukan milik perempuan. 

KOPRI hadir bukan untuk memisahkan, bukan untuk membuat perempuan berjalan di lorong sempitnya sendiri. KOPRI ada sebagai ruang yang memberi kesempatan perempuan untuk menguatkan diri, membangun keberaniannya, dan menemukan pola juangnya sendiri tanpa harus memaksa diri untuk meniru ritme laki-laki. KOPRI adalah tempat perempuan menyiapkan fondasi agar mereka tidak tenggelam ketika masuk ke arus besar organisasi. Ruang aman ini bukan pelarian, justru inilah ruang penempaan. Ruang tempat perempuan belajar bernapas, bukan sekadar bertahan.

Karena faktanya, sering kali laki-laki tidak bermaksud menyingkirkan perempuan. Namun karena pola pergerakan yang memang berbeda, perempuan berakhir di pinggir, terlambat merespon, atau tidak cukup terbiasa tampil dan bersaing. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena ruang besar itu belum menyesuaikan dirinya dengan cara tumbuh perempuan. Maka ketika ada yang bertanya "untuk apa KOPRI? Bukankah tanpa KOPRI perempuan bisa bersaing di PMII seperti biasa?". Perempuan bukan tidak bisa bersaing, mereka hanya butuh ruang untuk menyiapkan diri, ruang yang selama ini tidak disediakan oleh struktur gerakan yang dibentuk dengan pola laki-laki.

Perempuan dan KOPRI

KOPRI hadir agar perempuan tidak lagi berjalan sendirian, KOPRI hadir agar perempuan bisa membentuk keberanian versi mereka sendiri, tanpa harus kehilangan identitasnya, KOPRI hadir karena perjuangan perempuan di PMII memang belum selesai. Dan ia tidak akan selesai jika satu-satunya syarat untuk dianggap setara adalah "menyamakan diri dengan laki-laki".

Jika sejak awal ruang gerak perempuan di PMII benar-benar terasa aman, nyaman, dan setara, tentu gagasan tentang pembentukan KOPRI tidak akan pernah lahir. Tidak ada kelompok yang rela bersusah payah membuat wadah baru bila mereka sudah merasa mendapatkan ruang memadai dalam struktur yang ada. KOPRI lahir karena perempuan membutuhkan ruang khusus untuk tumbuh, bergerak, belajar, berpendapat, dan membuat keputusan tanpa harus terus menyesuaikan diri dengan pola maskulin yang mendominasi ruang besar.

Perempuan PMII tidak membentuk KOPRI karena ingin memisahkan diri, tetapi karena mereka sadar bahwa kebutuhan dan ritme gerak mereka berbeda. Mereka ingin punya ruang yang memungkinkan mereka berkembang, berekspresi, dan menemukan keberanian tanpa merasa harus mengekor, tanpa merasa harus "mengimbangi laki-laki" hanya agar dianggap layak.

Lalu muncul lagi pertanyaan lain "kalau begitu, kenapa tidak membuat ruang gerak di luar PMII saja? Kenapa tetap harus menjadi badan semi otonom yang masih terikat?". Jawabannya jelas, perempuan PMII tidak ingin keluar dari rumahnya, mereka ingin memperbaiki rumahnya. Mereka ingin tetap menjadi bagian dari PMII, tetapi dengan ruang yang memungkinkan mereka menguat tanpa kehilangan identitas sebagai kader PMII. KOPRI bukan bentuk perlawanan terhadap PMII, melainkan bentuk kasih sayang kader perempuan terhadap organisasinya, mereka ingin tetap tinggal, tetapi ingin diakui kebutuhannya.

Dan perlu ditegaskan, narasi ini bukan untuk membuktikan siapa yang paling benar, laki-laki atau perempuan. Justru sebaliknya, semoga laki-laki dan perempuan dapat saling memahami bahwa cara tumbuh mereka berbeda, dan karena itulah ruang perjuangan mereka pun membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Selamat Harlah KOPRI PMII ke-58, Semoga KOPRI terus menjadi ruang yang menumbuhkan keberanian, memperkuat kepercayaan diri perempuan, dan menjaga agar setiap kader perempuan memiliki tempat untuk berdiri tegak tanpa merasa harus menjadi versi lain dari dirinya.

Sebagai kader KOPRI, harapan saya sederhana, semoga KOPRI tetap menjadi rumah yang aman, kokoh, dan progresif. Tempat perempuan tidak hanya belajar memahami dirinya, tetapi juga belajar memahami dunia yang sering kali tidak memahaminya. Dan semoga KOPRI tetap hidup sebagai ruang yang menguatkan perempuan agar mampu melangkah sejajar, bukan untuk bersaing dengan laki-laki, tetapi untuk berjalan bersama.

Terpopuler

Lihat Semua

Berita Terkini

Lihat Semua