Langkah Kebablasan KOPRI PB: Di Antara Lelahnya Akar Rumput dan Elitisme Wacana Pusat

Langkah Kebablasan KOPRI PB: Di Antara Lelahnya Akar Rumput dan Elitisme Wacana Pusat

Sumber: Rohati KOPRI PKC PMII Banten

Agenda diskusi "Meja Bundar: BUBARKAN KOPRI?" yang diinisiasi oleh Pengurus Besar Korps PMII Putri (KOPRI PB) belakangan ini memicu gelombang tanda tanya besar. Di satu sisi, mengangkat tema sensitif seperti ini bisa dianggap sebagai bentuk otokritik yang berani. Namun, di sisi lain, langkah KOPRI PB ini terasa terlalu sembrono, radikal, bahkan cenderung abai terhadap risiko jangka panjang yang bisa mengguncang stabilitas organisasi di tingkat basis.

Sebagai kader KOPRI dari daerah, khususnya Banten, saya secara pribadi mencoba memahami bahwa mungkin KOPRI PB sengaja melempar diksi provokatif ini sebagai strategi pemantik. Mereka mungkin ingin memicu daya kritis dan menguji mentalitas kader-kader yang ada di struktur bawah. Namun, terlepas dari niat tersebut, menurut saya langkah ini tetap tidak pantas untuk dilakukan oleh pengurus setingkat KOPRI PB. Ketika kader di bawah sedang berdarah-darah mempertahankan marwah organisasi, elite di pusat justru menjadikannya sebagai bahan eksperimen wacana yang spekulatif.

Secara objektif, ada benarnya jika ada sebagian kader yang sepakat dengan wacana pembubaran tersebut. Mari kita jujur dan buka-bukaan: teman-teman perempuan di tingkat basis hari ini sudah sangat lelah! Kami lelah karena terus menerus harus membuktikan diri. Kader perempuan PMII hari ini sudah jauh lebih maju, mandiri, berwawasan luas, dan berkembang pesat. Kami ingin dianggap mampu berdiri mandiri. Kami mampu secara pemikiran dan gerakan, bukan hanya piawai bicara soal isu domestik perempuan, tetapi kami juga menguasai dan sanggup bertarung dalam pembahasan pengetahuan umum, peta politik, isu sosial, ekonomi, hingga gerakan strategis lainnya.

Namun, realitas di lapangan tidak seindah itu. Ironisnya, teman-teman laki-laki (sahabat) sering kali gagal dan tidak mampu menganggap bahwa kader perempuan itu ada secara pemikiran dan gerakan. Eksistensi kami kerap dipandang sebelah mata, dianggap sebagai pelengkap kuota, atau pemanis struktural semata. Lebih menyakitkan lagi, lingkaran setan ini kadang membuat sesama kader perempuan mengalami krisis kepercayaan diri. Di tengah situasi psikologis kader bawah yang sedang berjuang melawan ketidakpercayaan diri dan bias gender tersebut, KOPRI PB justru secara serampangan mengangkat isu pembubaran ini ke permukaan. Ini adalah sebuah blunder besar.

Di tingkat akar rumput, kelelahan itu memicu sebuah pertanyaan eksistensial yang mendalam: Apakah lebih baik KOPRI dibubarkan saja, lalu kita melebur sepenuhnya di PMII (umum) agar bisa bersaing langsung secara head-to-head dengan teman-teman laki-laki? Muncul pemikiran bahwa mungkin kita akan lebih diakui secara terhormat jika berhasil menang dan unggul dalam arena kompetisi yang sama dengan mereka, tanpa sekat wadah semi-otonom.

Namun, mengapa sampai hari ini kami di bawah khususnya di Banten tetap memilih bertahan dan memperjuangkan agar KOPRI tetap ada?

Alasannya jauh lebih besar daripada sekadar ego atau romantisme sejarah belaka:

KOPRI Sebagai Safe Space (Ruang Aman) yang Belum Tergantikan: Kita harus melihat bahwa kultur patriarki di internal organisasi belum sepenuhnya runtuh. Jika KOPRI dibubarkan hari ini saat kader perempuan masih berproses membangun rasa percaya diri, mereka berisiko langsung tergilas oleh dominasi kultur maskulin di PMII umum. KOPRI adalah ruang transisi vital untuk menggembleng mental sebelum kader perempuan siap bertarung di medan yang lebih luas.

Wadah Afirmasi yang Dilindungi Konstitusi: KOPRI adalah produk sejarah yang lahir dari kebutuhan objektif untuk mengorganisir kekuatan perempuan secara legal-formal melalui AD/ART. Mempertahankannya adalah bentuk komitmen kita untuk memastikan bahwa hak-hak politik dan ruang kaderisasi perempuan memiliki kepastian hukum yang tidak bisa diintervensi atau dihapus begitu saja oleh kebijakan sepihak struktural PMII.

Jembatan Ideologis dan Emosional Antar Generasi: KOPRI adalah simpul pengikat perjuangan perempuan dari masa ke masa. Menjaga KOPRI tetap berdiri adalah cara kami menghormati tetesan keringat para pendahulu yang telah membuka jalan bagi generasi hari ini, sekaligus memastikan estafet perjuangan ini tidak terputus bagi adik-adik kami di masa depan.

Oleh karena itu, alih-alih menghabiskan energi untuk memperdebatkan "bubar atau tidak" yang kontraproduktif dan melelahkan secara psikologis, KOPRI PB seharusnya memfokuskan kompas gerakannya pada substansi yang lebih esensial. Fokus utama kita hari ini adalah bagaimana merumuskan formulasi agar kader KOPRI bisa terus berkembang secara mandiri, berdaya, dan diakui kapasitasnya baik secara ekonomi, politik, maupun intelektual.

Bantu kami di daerah untuk meruntuhkan tembok skeptisisme dari teman-teman laki-laki. Fasilitasi kami dengan panggung-panggung pengetahuan umum dan gerakan strategis nasional. Menggiring opini pada pembubaran institusi di saat kader bawah sedang butuh penguatan justru menunjukkan kemunduran berpikir dalam mencari solusi atas stagnasi organisasi. Jangan sampai demi sebuah panggung "keberanian" yang radikal milik elite pusat, rumah perlindungan kader daerah justru roboh berantakan.

Terpopuler

Lihat Semua

Berita Terkini

Lihat Semua