Suarasahabat.com, Cilegon, — Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Institut Al-Khairiyah Cabang Cilegon menyatakan keprihatinan atas meningkatnya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di sejumlah wilayah Kota Cilegon. Lonjakan kasus tersebut dinilai dipicu oleh musim kemarau yang menyebabkan banyak aliran sungai mengalami pendangkalan dan tidak mengalir, sehingga menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.
Ketua KOPRI PMII Institut Al-Khairiyah Cabang Cilegon, Yunisa Febrianti, menilai kondisi tersebut sudah memerlukan penanganan serius dari pemerintah. Menurutnya, langkah pencegahan tidak boleh menunggu hingga jumlah korban terus bertambah.
"Kami melihat adanya ancaman nyata bagi keselamatan masyarakat. Genangan air di sungai yang tidak mengalir akibat musim kemarau telah menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk penyebab DBD. Pemerintah dan dinas terkait harus segera bertindak sebelum semakin banyak warga yang menjadi korban," ujar Yunisa.
Atas kondisi tersebut, PMII Institut Al-Khairiyah Cabang Cilegon menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Pemerintah Kota Cilegon dan Dinas Kesehatan, yaitu:
Melaksanakan fogging secara masif dan merata di wilayah yang berpotensi maupun yang telah ditemukan kasus DBD.
Segera melakukan normalisasi dan pembersihan aliran sungai yang mengalami pendangkalan agar tidak menjadi sarang jentik nyamuk.
Mengintensifkan Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui program 3M Plus dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Memastikan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di Kota Cilegon dalam kondisi siaga untuk memberikan pelayanan cepat dan optimal kepada pasien DBD.
PMII Institut Al-Khairiyah Cabang Cilegon menegaskan bahwa kesehatan masyarakat merupakan tanggung jawab bersama yang harus menjadi prioritas pemerintah. Organisasi tersebut menyatakan akan terus mengawal persoalan ini hingga terdapat langkah konkret dalam penanganan dan pencegahan penyebaran DBD di Kota Cilegon.