Gerakan kritis yang dulu menjadi tradisi kini digantikan budaya seremonial. PMII tampak lebih sibuk mengurus rapat, kegiatan seremonial, dan pelantikan, sementara ruang produksi gagasan yang seharusnya menjadi jantung gerakan menyusut drastis. Akibatnya, PMII tetap bergerak, tetapi sering bergerak tanpa arah.
Oleh : Refaldi Hendrika Bayu Putra
Ketua PC PMII Kabupaten Serang
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berdiri dengan cita-cita besar: menjadi motor gerakan intelektual, pembebasan, dan kemanusiaan yang mengawal kepentingan mahasiswa serta masyarakat. Namun dalam realitas kontemporer, gerakan PMII menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan. Jarak antara idealitas gerakan dan kondisi objektif di lapangan semakin terlihat jelas. Dalam tulisan ini saya mencoba memberikan kritik opini terhadap kondisi objektif gerakan PMII hari ini, dengan harapan menjadi bahan refleksi, bukan sekadar keluhan.
Arah Gerakan yang Mulai Kehilangan Kejelasan
PMII memiliki identitas historis sebagai gerakan mahasiswa yang berakar pada nilai Aswaja, kebangsaan, dan humanisme. Namun hari ini, arah gerakan tersebut sering tampak kabur. Banyak aksi dan pernyataan organisasi bersifat reaktif, tidak berbasis analisis mendalam, serta lebih mengikuti arus media ketimbang melakukan pembacaan kritis terhadap realitas.
Gerakan kritis yang dulu menjadi tradisi kini digantikan budaya seremonial. PMII tampak lebih sibuk mengurus rapat, kegiatan seremonial, dan pelantikan, sementara ruang produksi gagasan yang seharusnya menjadi jantung gerakan menyusut drastis. Akibatnya, PMII tetap bergerak, tetapi sering bergerak tanpa arah.
Melemahnya Tradisi Intelektual dan Kajian
PMII dikenal sebagai organisasi yang melahirkan banyak intelektual muda. Namun kondisi tersebut mulai memudar. Di banyak wilayah, tradisi kajian mendalam hampir hilang. Diskusi kritis digantikan seminar instan, research digantikan postingan media sosial, dan pemikiran digantikan retorika moral.
Kader PMII cenderung lebih akrab dengan aktivitas administratif dari pada kajian filsafat, sosial politik, ekonomi, psikologi, atau isu global. Padahal, gerakan mahasiswa tanpa basis pengetahuan hanya akan melahirkan aktivisme yang rapuh. PMII butuh lebih banyak perpustakaan kecil, ruang baca, forum pemikiran bukan hanya backdrop acara
Politisasi Gerakan yang Semakin Menguat
Kedekatan PMII dengan elit politik bukanlah sesuatu yang baru. Namun masalah muncul ketika kedekatan itu berubah menjadi kekeluargaan. Banyak gerakan turun ke jalan yang terhambat kepentingan oleh kedekatan ketimbang mengutamakan kepentingan mahasiswa atau masyarakat. Dibeberapa daerah, gerakan PMII bahkan mengalami fragmentasi akibat konflik elite.
Gerakan kehilangan independensinya, sementara kader hanya menjadi “penonton” perselisihan senior. Padahal, organisasi mahasiswa seharusnya menjadi ruang pembebasan, bukan perpanjangan tangan kekuasaan.
Kelemahan Konsolidasi dan Soliditas Gerakan
Dewasa ini soliditas internal PMII mengalami keretakan dalam berbagai asfek, seperti tercermin dalam kompetisi tidak sehat antar kader, konflik antar komisariat dan cabang, hingga koordinasi yang lemah antar jenjang. Kelemahan ini membuat banyak agenda gerakan tidak berjalan efektif dan membuat PMII kehilangan daya tawar dalam dinamika kampus maupun masyarakat.
Gerakan besar hanya bisa dibangun oleh organisasi yang solid. Namun sayangnya, energi kader lebih banyak habis untuk menyelesaikan konflik internal dari pada menyelesaikan masalah masyarakat.
Tidak Mampu Mengikuti Perubahan Zaman
Zaman berubah cepat menuju era digitalisasi, kecerdasan buatan (AI), ekonomi berbasis data, isu lingkungan global, keamanan siber, dan perubahan sosial. Namun gerakan PMII masih belum sepenuhnya adaptif. Banyak struktur PMII masih berpikir dalam logika lama gerakan konvensional, aksi fisik, retorika moral tanpa memaksimalkan teknologi, analisis data, dan media digital.
PMII akan kehilangan relevansi jika tidak mampu berbicara tentang isu masa depan dalam ranah diskursus disrupsi teknologi, ketimpangan digital, big data dan demokrasi, perubahan iklim, ekonomi kreatif, budaya pop dan politik identitas. Gerakan yang tidak relevan akan ditinggalkan kadernya sendiri, dan mati terkikis oleh zaman.
Krisis Kader Teladan
PMII hari ini menghadapi krisis figur pemimpin internal yang mampu menjadi teladan. Di banyak komisariat, kader lebih sering disuguhi contoh konflik, perebutan jabatan, kedekatan elite, dan perebutan akses daripada keteladanan moral dan kecakapan intelektual. Kader membutuhkan figur yang mampu menginspirasi bukan hanya memerintah.
Gerakan tidak akan maju tanpa pemimpin yang memimpin dengan gagasan, integritas, dan keberanian moral. Saya mengusulkan adanya mentoring pasca Mapaba dengan metode penjurusan mengenai 3 (tiga) elemen penting yaitu Ke-PMIIan, Ke-Indonesiaan dan Ke-Islaman. Dengan cara menentukan kader akan lebih fokus bergerak salah satu bidang tadi agar PMII tidak kehilangan generasi penunjang pergerakan.
Saatnya Merevolusi Cara Bergerak
PMII membutuhkan reorientasi gerakan bukan sekadar reformasi administratif. Gerakan harus kembali berpijak pada nilai, memperkuat keilmuan, dan membangun budaya intelektual. PMII harus belajar bergerak bukan hanya dengan massa, tetapi dengan gagasan. Bukan hanya dengan aksi fisik, tetapi dengan analisis. Bukan hanya dengan seremonial, tetapi dengan kerja nyata yang relevan dengan zaman.
Gerakan PMII akan kembali besar jika mampu menjadi Organisasi intelektual, Organisasi kemanusiaan, Organisasi masa depan, Organisasi yang mandiri secara moral dan pikiran. Kritik ini bukan untuk melemahkan, tetapi mengingatkan: PMII sebesar cita-cita para pendirinya. Tapi ia hanya akan sebesar ikhtiar dan kesadaran kader-kadernya hari ini.
Refaldi Hendrika Bayu Putra merupakan ketua Cabang PMII Kabupaten Serang Tahun 2025. Sebagai seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, ia juga dikenal aktif di organisasi inta kampus