Tabu Yang Mebahayakan: Mengapa Pendidikan Seksual Penting

Tabu Yang Mebahayakan: Mengapa Pendidikan Seksual Penting

(Peringatan Internasional Women's Day, 8 Maret 2026) Oleh Fitri Awaliyah

Di banyak tempat, membicarakan soal seks masih diperlakukan seperti pelanggaran kesopanan. Kata “seks” saja sering membuat orang langsung mengerutkan dahi, tertawa canggung, atau buru-buru menghentikan pembicaraan. Ironisnya, sikap itu tetap muncul bahkan ketika yang dibicarakan adalah pendidikan dan kesehatan. Label “jorok” lebih cepat muncul daripada kemauan untuk memahami.

Pengalaman pribadi saya menunjukkan betapa kuatnya stigma ini di masyarakat. Ketika mencoba membuka percakapan tentang batas tubuh dan kesehatan reproduksi, respons yang muncul bukan diskusi yang sehat, melainkan kecanggungan. Ada yang menertawakan, ada pula yang spontan berkata, “ih, kok ngomongin begitu.” Seolah-olah menyebut tubuh dan batasannya adalah sesuatu yang tidak pantas. Padahal yang dibicarakan bukan hal vulgar, melainkan pengetahuan dasar yang justru penting bagi anak dan remaja.

Di sinilah letak persoalan besarnya: masyarakat lebih takut pada pembicaraan tentang seks daripada pada dampak dari ketidaktahuan itu sendiri.

Pendidikan seksual sering disalahpahami sebagai ajakan untuk membicarakan hal-hal yang memalukan. Padahal yang dimaksud justru sangat mendasar—memahami tubuh sendiri, mengetahui batasan yang tidak boleh dilanggar orang lain, serta belajar melindungi diri dari perlakuan yang tidak semestinya. Ketika pengetahuan dasar ini tidak pernah dijelaskan, anak-anak tumbuh dengan kebingungan tentang tubuh mereka sendiri.

Akibatnya tidak kecil. Banyak anak tidak memahami bahwa tubuh mereka memiliki wilayah pribadi yang tidak boleh disentuh sembarangan. Mereka juga tidak tahu bagaimana harus bereaksi atau melapor ketika mengalami perlakuan yang tidak pantas. Dalam situasi seperti ini, ketidaktahuan justru menjadi pintu masuk kerentanan.

Lebih buruk lagi, tabu terhadap pendidikan seksual juga membentuk cara masyarakat memandang kasus kekerasan seksual. Tidak jarang korban terutama perempuan justru dipertanyakan. Cara berpakaian, waktu keluar rumah, bahkan sikap korban sering dijadikan alasan untuk menyalahkan mereka. Narasi ini bukan hanya keliru, tetapi juga memperkuat budaya yang gagal memahami batasan tubuh dan penghormatan terhadap orang lain.

Momentum International Women’s Day setiap 8 Maret seharusnya menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap perempuan dan anak tidak cukup hanya dengan hukum dan slogan. Perlindungan juga membutuhkan pengetahuan. Pendidikan seksual yang tepat, disampaikan secara bijak dan sesuai usia, dapat menjadi bekal penting bagi anak untuk memahami tubuhnya, menjaga batasannya, dan menghargai tubuh orang lain.

Selama pendidikan seksual masih dianggap tabu, selama itu pula kita membiarkan anak-anak tumbuh tanpa perlindungan pengetahuan. Yang seharusnya kita khawatirkan bukanlah keberanian untuk membicarakan pendidikan seksual, melainkan keberanian kita untuk terus membiarkan ketidaktahuan.

Karena pada akhirnya, yang berbahaya bukanlah pengetahuan melainkan diam yang terlalu lama.

 

Terpopuler

Lihat Semua

Berita Terkini

Lihat Semua