𝑀𝑎𝑠𝑎 𝑑𝑒𝑝𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑛𝑔𝑠𝑎 𝑖𝑛𝑖 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑛𝑡𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑟𝑎𝑝𝑎 𝑠𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔 𝑘𝑎𝑡𝑎 "𝑎𝑛𝑎𝑘 𝑚𝑢𝑑𝑎" 𝑑𝑖𝑠𝑒𝑏𝑢𝑡 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑝𝑖𝑑𝑎𝑡𝑜-𝑝𝑖𝑑𝑎𝑡𝑜 𝑘𝑒𝑛𝑒𝑔𝑎𝑟𝑎𝑎𝑛, 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑖𝑛𝑘𝑎𝑛 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑘𝑒𝑏𝑒𝑟𝑎𝑛𝑖𝑎𝑛 𝑘𝑖𝑡𝑎 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎ℎ 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑚𝑏𝑖𝑙 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑚𝑎𝑘𝑛𝑎.
Oleh : Mohamad Zidni Assalam (Wakil Ketua 1 PKC PMII Banten)
Suara Sahabat, Opini - Kalau ada kompetisi nasional untuk kategori 'Isu Paling Sering Disanjung Tapi Paling Jarang Diberi Panggung', pemenangnya jelas: Anak Muda. Kita sering dipuji setinggi langit sebagai pemegang kunci masa depan, tapi jangankan memegang kunci, diajak masuk ke ruang rapatnya saja kadang disuruh bikin kopi dulu. Lewat catatan singkat ini, saya ingin mengajak sahabat-sahabat PMII dan seluruh pemuda untuk tidak cuma jadi penonton yang budiman di tengah riuk-pikuk gerontokrasi.
Fenomena gerontokrasi ini bukan lagi rahasia umum. Anak muda sering kali cuma dijadikan "pemanis" di panggung publik dipakai untuk bahan konten media sosial, diundang dalam dialog formalitas, atau sekadar menambal kuota administrasi politik. Namun, begitu masuk ke ruang-ruang krusial tempat kebijakan dibuat? Suara kita kerap mendadak sayup, tertutup oleh dominasi cara berpikir lama dan budaya kepatuhan yang kaku.
Akibatnya, bonus demografi ini ibarat kita diberikan mobil balap paling canggih, tapi kunci kontaknya masih dipegang oleh orang lain yang bahkan enggan menggunakan GPS.
Namun, sebagai bagian dari gerakan mahasiswa, saya sadar bahwa terus-terusan mengeluhkan dominasi senior bukanlah sikap yang dewasa. Satu pelajaran penting yang saya petik: kedaulatan tidak pernah diserahkan atas dasar belas kasihan. Generasi tua tidak akan tiba-tiba melangkah mundur hanya karena kasihan melihat anak muda gigit jari. Kedaulatan politik dan gagasan harus kita rebut, dan cara paling terhormat untuk merebutnya adalah dengan menaikkan kelas kapasitas diri kita sendiri.
Di sinilah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menemukan panggilan sejarahnya.
PMII tidak boleh lagi terjebak menjadi "event organizer" kegiatan seremonial, sekadar tempat reuni nostalgia, apalagi hanya jadi penonton dari intrik politik elite. PMII harus kembali ke khittah-nya sebagai laboratorium pemikiran yang menempas kepemimpinan muda yang relevan dengan zaman.
Jika PMII ingin benar-benar hadir membela kedaulatan kaum muda, menurut hemat saya ada tiga pijakan dasar yang harus kita benahi bersama:
1. Runtuhkan Feodalisme Internal
Kita tidak bisa menuntut kedaulatan di luar jika di internal sendiri kita masih membudayakan mentalitas pengekor. Kepatuhan buta pada figur senior harus diganti dengan iklim dialektika yang sehat. Kaderisasi PMII harus berani melompat jauh: membekali kader dengan pisau analisis krisis iklim, ekonomi digital, hingga geopolitik global, bukan sekadar budaya "siap laksanakan" tanpa daya kritis.
2. Bertarung dengan Gagasan Berbasis Data
Otoritas lama tidak akan goyah hanya karena kita berteriak kencang di jalanan. Mereka baru akan duduk dan mendengarkan ketika anak muda datang menyodorkan riset yang presisi, kajian kebijakan publik yang matang, serta formulasi solusi yang konkret (data-driven solution). Emosi harus diimbangi dengan presisi data.
3. Membumi pada Gelisah Nyata Anak Muda
Gerakan PMII harus menyentuh isu-isu yang membuat generasi hari ini sulit tidur: dari maraknya ketidakpastian kerja (gig economy), biaya kuliah (UKT) yang kian tak terjangkau, hingga ruang aman dalam berpendapat. Jangan sampai kita sibuk memperdebatkan wacana elit di langit, sementara kader di akar rumput bingung memikirkan nasib dan masa depannya sendiri.
Masa depan bangsa ini tidak akan ditentukan oleh seberapa sering kata "anak muda" disebut dalam pidato-pidato kenegaraan, melainkan oleh keberanian kita untuk melangkah dan mengambil peran secara bermakna. PMII memiliki sejarah panjang, basis massa yang solid, dan landasan nilai ideologi yang kuat untuk menjadi motor gerakan ini, maka jangan sampai semua sumberdaya yang kita punya cuma dipakai buat sorak-sorai seremonial.
Sudah saatnya kita berhenti mengetuk pintu kepemimpinan sambil berharap iba. Lewat kaderisasi PMII, mari tunjukkan kapasitas, buktikan konsistensi, dan kita jemput kedaulatan kaum muda.